GRAND OPENING GRAMEDIA GRAND INDONESIA

December 21, 2008

 

MINGGU, 21 DESEMBER 2008 | 12:39 WIB

JAKARTA, MINGGU - Harga kertas melambung karena krisis baru-baru ini. Akibatnya, harga buku juga ikut naik. Buku yang seharusnya menjadi kebutuhan masyarakat, terutama pelajar, seolah tak terjangkau kalangan menengah ke bawah.

Namun, selama seminggu ke depan, warga Jakarta tak perlu pusing akan harga buku itu. Sebab, Toko Buku Gramedia cabang Grand Indonesia memberikan diskon khusus sebesar 30 persen pada grand opening-nya. “All items, kecuali elektronik diskon 30 persen,” ujar Asisten Store Manager Tb Gramedia cabang GI, Aninda Cendy Amung, kepada Kompas.com, Jakarta, Minggu (21/12).

Dengan adanya diskon itu, Gramedia Grand Indonesia sejak Sabtu kemarin dipadati pengunjung yang ingin mendapatkan buku bagus dengan harga lebih murah.

Salah satu pengunjung, Tuti Kembang Mentari, mengatakan promo seperti ini mampu memuaskan hasratnya untuk memiliki buku kesukaannya. “Apalagi saya sukanya buku sejarah dan religi sejarah. Jadi terkadang harganya mesti mikir dulu kalau beli. Sekarang, harga satu buku, sudah dapat tiga buku. Diskonnya 30 persen, ditambah promo dari salah satu bank 50 persen,” kata dia.

Dia menambahkan momen diskon ini sangat pas, karena bertepatan dengan perayaan Hari Natal. Buku, lanjut Tuti, merupakan hadiah natal yang sangat mulia untuk anak-anaknya. Oleh karena itu, dia menyebut toko ini sebagai toko buku one stop shopping.

 

flyer-gramedia-gi

 

DISKON 30% SEMUA BARANG!!! 

 

*tambahan 5% dengan penggunaan kartu kredit BCA

GRAMEDIA GRAND INDONESIA
20 – 26 DESEMBER 2008


*kecuali produk elektronik

Eclipse

October 14, 2008

Penulis : Stephanie H. Meyer

Bella yakin ia hanya mencintai Edward. Tapi benarkah begitu? Sebab sekali ini Jacob takkan tinggal diam; ia akan membuktikan kepada Bella, bahwa gadis itu juga mencintainya.

Ada sesuatu yang Edward tak ingin kuketahui. Sesuatu yang takkan pernah dirahasiakan Jacob dariku. Sesuatu yang membuat keluarga Cullen dan kawanan werewolf rela melakukan gencatan senjata dan bekerja sama bahu-membahu… Sesuatu yang kunanti-nantikan. Sesuatu yang meskipun tak pernah kuharapkan bakal terjadi, toh terjadi juga.

Di Seattle terjadi serangkaian pembunuhan misterius, sementara Victoria, vampir yang menyimpan kebencian terhadap Bella terus melanjutkan aksi balas dendamnya. Sekali lagi Bella menemukan dirinya terperangkap dalam bahaya. Di tengah-tengah semua itu, ia juga dipaksa untuk memilih antara cintanya kepada Edward dan persahabatannya dengan Jacob. Bella sadar, apa pun pilihannya nantinya, itu bisa memicu pertempuran tanpa akhir antara vampir dan werewolf. Dan seolah-olah itu belum cukup berat, ada satu lagi keputusan penting yang harus diambilnya: kehidupan ataukah kematian.

* Buku ketiga setelah Twilight dan New Moon yang selalu menjadi Best Seller. 

Harga : Rp 70.000,- *
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal : 688 halaman
Terbit : September 2008
Soft Cover


RectoVerso

October 14, 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dewi Lestari, yang bernama pena Dee, kali ini hadir dengan mehakarya unik dan pertama di Indonesia. “Rectoverso” merupakan hibrida dari fiksi dan musik, terdiri dari sebelas cerita pendek dan sebelas lagu yang bisa dinikmati secara terpisah maupun bersama-sama. Keduanya saling melengkapi bagaikan dua imaji yang seolah berdiri sendiri tapi sesungguhnya merupakan satu keastuan.

Inilah cermin dari dua dunia Dewi Lestari yang ia ekspresikan dalam napas kreativitas tunggal bertajuk “Rectoverso”. Dengar fisiknya. Baca musiknya. Lengkapi penghayatan Anda dan temukanlah sebuah pengalaman baru.

“Tertimonial by Dee” 

Setiap karya adalah anak jiwa. Dan pada tanggal 3 September 2008 lalu, saya baru saja resmi “melahirkan” sepasang “bayi kembar” bernama RECTOVERSO.

Inilah karya pertama saya yang mampu menghadirkan kedua wajah saya sekaligus: musik dan fiksi, album dan buku, Dee yang menulis dan Dewi Lestari yang bermusik.

Rectoverso juga merupakan karya hibrida pertama di Indonesia yang memadukan kedua dunia tadi menjadi satu karya yang utuh meski terpisah secara wujud. Karena itulah, Rectoverso bukan sekadar karya, melainkan sebuah pengalaman. Dalam pengalaman Rectoverso, fiksi dan musik saling bercermin, melengkapi, dan menggenapkan.

Ke tangan Anda, saya persembahkan: 11 Lagu. 11 Kisah. 11 langkah untuk menelusuri lorong hati lebih jauh lagi. Saya ajak Anda untuk melangkah bersama. Alami Rectoverso. Dan sesudah itu, kiranya Anda sudi berbagi catatan pendek tentang perjalanan Anda menyelami karya ini. Terima kasih saya dari hati yang terdalam.
**dee-idea.blogspot.com

Harga Buku : Rp 75.000,-

Penulis : Dewi – Dee


Jejak Tinju Pak Kiai

October 14, 2008

Pengarang : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Kompas, Jakarta
Edisi : I, September 2008
Tebal Buku : xiii + 240 halaman

ADA seorang kiai nonton pertandingan tinju bersama santri-santrinya pada Minggu pagi di Maret 1974. George Foreman melawan Muhammad Ali di Kinshaha. Pak Kiai bersemangat dan bersorak-sorai terus-menerus sampai terdengar di seluruh pelosok asrama santri di pesantrennya. Sebaliknya, para santri hampir tidak ada suaranya dan tampak bingung jika dilihat dari air muka mereka.
Setiap kali Muhammad Ali ditonjok, Pak Kiai bersorak. Para santri tidak berani meng-counter, meskipun hati mereka ikut sakit melebihi sakitnya Muhammad Ali di-tonjokin Foreman.
Ali, 32, menantang Juara Dunia Foreman, 24. Mulai ronde ke-3 Ali sudah lari ke pojok ring terus dan memang tak diberi peluang oleh Foreman untuk sedetik saja tak terpojok.
Ali minta tolong sama tali ring untuk bergelayutan dengan punggungnya menghindari pukulan-pukulan Foreman. Para santri rasanya tidak rida dunia akhirat melihat dan mendengar Pak Kiai bersorak-sorak terus setiap kali Ali diberondong pukulan. Sampai akhirnya tiba menit kedua ronde ke-8, Ali balas memukul, akumulasi jab, straight, dan hook.
Foreman munting, terputar badannya, dan tergeletak TKO. Badannya masih belum habis benar, tapi mental dan hatinya KO duluan karena tak menyangka Ali yang tua mampu menjatuhkannya. Para santri tak bisa menahan diri lagi. Begitu Foreman ngglimpang, mereka berteriak-teriak sangat keras.
Sebaliknya Pak Kiai langsung pingsan karena dua perkara. Pertama, karena Foreman tumbang, kedua karena pekik kegembiraan para santri.
Itulah penggalan kisah pembuka buku ini yang menurut Emha penulisnya diperuntukkan bagi siapa saja, aktivis, intelektual, pahlawan, pejuang, DPR, pemerintah, LSM, ulama, dan siapa saja. Mohon dengan sangat jangan mengikuti jejak Pak Kiai itu.

Harga : Rp 45.000,-


Yakuza Moon

August 31, 2008

Penulis : Shoko Tendo

Penampilan fisik Shoko Tendo tidak berbeda dengan perempuan muda Jepang lainnya. Dia baru terlihat beda setelah melepas pakaian dan memperlihatkan tato yang menghiasi hampir sekujur tubuhnya.

Posisinya sebagai seorang putri tokoh mafia Jepang, Yakuza, tidak bisa menolak saat tubuhnya dipenuhi rajah beraneka bentuk dan warna itu. Pada usianya yang genap 39 tahun, dia menerbitkan buku yang mengisahkan suka dukanya sebagai putri gangster lewat bukunya, Yakuza Moon.

Dalam buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris itu, dia mengatakan bahwa usaha polisi menangkapi anggota gangster malah membuat pelaku kejahatan tersebut sulit ditemukan dan dilacak. “Semakin keras polisi berusaha, semakin cepat yakuza bersembunyi di bawah tanah dan membuat aktivitas mereka bertambah sulit dilacak,” katanya saat diwawancarai Reuters.

Tendo bisa mengungkapkan itu karena dia adalah putri bos Yamaguchi-gumi, yakuza terbesar di Jepang. Yamaguchi-gumi digambarkan sebagai kelompok yakuza elite dengan dandanan ala gangster Italia lengkap dengan jas, mobil impor nan mewah, serta motor Harley-Davidson.

Dibesarkan dengan ide kuat mengenai kehormatan, Tendo tumbuh sebagai anak yang dimanja. Dan, untuk menunjukkan statusnya, kulit Tendo ditato lelaki yang kerap mengunjungi rumah keluarganya.

Di luar rumah, dia sering mendapatkan ejekan. Dia pun terperosok sebagai pecandu narkoba. Kehidupan Tendo berputar di dunia gangster ketika menjadi kekasih beberapa pemimpin gangster.

Tetapi, dunia gelap Tendo berubah ketika kematian mulai mendekatinya. Saat itu, dia dipukuli dan mengalami overdosis obat. “Kejadian itu mengubah hidup saya,” katanya.

Sekarang, dia mengaku sudah menjauhi dunia yakuza yang dia nilai kehilangan tradisi mereka secara drastis. Menurut dia, tidak sulit menjadi anggota gang di Jepang. Sampai sekarang pun, gang-gang tersebut mudah ditemui.

Sebelumnya, gang-gang itu kerap bekerja sama dengan kepolisian untuk menyerahkan tersangka dari tindakan kejahatan yang dilakukan yakuza. Tetapi, kerja sama antara polisi dan gang terhenti ketika hukum kejahatan terorganisasi diperketat pada 1992.

Saat ini, pemasukan terbesar yakuza diperoleh dari kepemilikan saham, properti, dan keuangan. “Yakuza menjadi lebih testruktur seperti mafia Amerika Serikat. Yakuza juga memperluas jaringan mereka antara ahli-ahli bisnis dan ahli kekerasan,” kata Manabu Miyazaki, penulis yang ayahnya juga yakuza.

Harga : Rp. 44.000,-


Pidato-pidato yang Mengubah Dunia

August 18, 2008

Penerjemah: Haris Munandar, MA

Pidato yang hebat tidak hanya mengungkapkan kebenaran di masanya, namun bisa juga menyebarkan kebohongan besar. Kumpulan pidato luar biasa ini memuat himne-himne penuh semangat tentang kebebasan demokratis yang mengandung prinsip-prinsip kepatutan dan kebebasan yang kita agungkan, kata-kata indah yang mencerahkan dunia.

Namun sebagian di antara pidato itu sebaliknya malah berusaha mengaburkan cakrawala dunia bebas. Itulah pidato para monster sejarah, yang juga memuat pelajaran yang bisa kita petik. Buku Pidato-pidato yang Mengubah Dunia memuat lebih dari 50 pidato yang menggugah dan sangat penting dari berbagai era sejarah dan bangsa. Buku ini akan menginspirasi para pembaca dan memberi mereka pemahaman yang lebih luas tentang peristiwa-peristiwa pada masa itu.

Setiap pidato disertai dengan pengenalan komprehensif yang menjelaskan latar belakang sejarahnya, mengapa pidato-pidato itu penting, dan apa hasil yang ditimbulkannya. Biografi ringkas dari penyampai pidato menjelaskan bagaimana mereka berdiri di persimpangan sejarah.

Banyak dari pidato ini yang mengutarakan kebenaran abadi seperti Pidato Gettysburg, atau pidato yang kurang dikenal dari tokoh-tokoh seperti pemberontak sekaligus presiden masa depan Cekoslovakia, Vaclav Havel, atau Presiden Israel, Chaim Herzog. Kesederhanaan bahasa menandai pembuatan pidato hebat, seperti khotbah Yesus atau pidato Martin Luther King, dan lebih hebat lagi ketika kata-kata itu ditulis sendiri oleh sang orator. Sedangkan pidato-pidato dengan kalimat serba indah dan membuai bisa juga dikemukakan oleh para tokoh paling jahat. Selain mencerahkan, pidato yang bagus dan filantropis bisa menjadi topeng dan mengaburkan pemahaman.

Pidato Adolf Hitler, misalnya, menunjukkan keahliannya sebagai agitator politik, aktor, dan penulis naskah pidato, namun digayuti oleh kepicikan, muslihat, dan tipu daya. Sebaliknya, walaupun pandangan Stalin kejam, anak tukang sepatu yang sederhana itu tak ragu menyampaikannya dengan kejelasan yang mengejutkan.

Banyak dari pidato yang dibahas dalam buku ini mengungkapkan kelemahan sekaligus kekuatan orang-orang yang menyampaikannya. Setiap pidato juga dapat menjadi jendela untuk melihat suatu masa dalam sejarah. (DP)

Harga : Rp 150.000,-


Agenda Mendesak Bangsa : Selamatkan Indonesia

May 22, 2008

Penulis : Mohammad Amien Rais

Dalam 30 tahun terakhir, dunia menyaksikan bangkitnya imperialisme ekonomi yang dilancarkan negara-negara Barat, negara-negara eks kolonialis, lewat apa yang dinamakan globalisasi. IMF, Bank Dunia, dan WTO adalah tiga institusi pilar globalisasi.

Mereka membangun system korporatokrasi yang berunsurkan korporasi besar, kekuatan politik pemerintah, lingkaran militer, perbankan dan keuangan internasional, media massa dan kelompok intelektual prokemapanan. Unsur-unsur korporatokrasi itu dapat menerobos ke negara-negara berkembang dengan bantuan elite nasionalnya yang bersedia menjadi komprador atau pelayan kepentingan korporatokrasi. Sementara itu Pax Americana yang memimpikan supremasi atau hagemoni Amerika Serikat telah membonceng proses globalisasi itu.

Sayang sekali, pemerintah Yudhoyono membawa Indonesia ke posisi subordinasi di bawah korporatokrasi internasional itu. Indonesia tidak mungkin memelihara kemerdekaan, kedaulatan, dan kemandiriannya apabila Indonesia tetap menjadi subordinat kepentingan kapitalis dunia. Buku ini menawarkan agenda yang perlu kita kerjakan bersama.

Harga : Rp 54.000,-


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.